0

Merajut Asa Untuk Gajah dan Tesso Nilo

DSC_0123

Imbo, anak gajah yang dijaga dan dirawat di Tesso Nilo. Foto : Dokumentasi pribadi

Tesso Nilo, Rumah Para Gajah yang Semakin Ciut

Pagi itu, Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau terlihat lengang, masih diselimuti oleh kabut pagi yang menyejukkan. Beberapa mahout telah bersiap membawa para gajah yang dirawatnya untuk mandi pagi. Rutinitas mandi pagi merupakan hal yang paling disenangi oleh gajah, salah satunya Imbo. Imbo, merupakan anak dari Gajah betina Lisa, yang lahir dan besar di Taman Nasional Tesso Nilo. Imbo bukan satu-satunya gajah yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo. Masih ada 8 gajah lagi yang dibina di Flying Squad, tim mitigasi konflik gajah-manusia, bentukan WWF Indonesia.

Sejak 2004, Taman Nasional Tesso Nilo telah ditetapkan sebagai habitat konservasi gajah Sumatera dan memiliki dua kantong gajah yang merupakan kantung gajah terbesar di Riau. Hasil penelitian LIPI dan WWF Indonesia (2003), melaporkan bahwa pencacahan pada petak berukuran 1 hektar, ditemukan 360 jenis yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku dengan rincian jumlah jenis pohon 215 jenis dan anak pohon 305 jenis. Bahkan Tesso Nilo juga digadang-gadangkan sebagai hutan yang terkaya keanekaragaman hayati nya di dunia dengan ditemukan nya 218 jenis tumbuhan vascular di petak seluas 200 m2 oleh Center for Biodiversity Management dari Australia pada tahun 2001.  Dapat disimpulkan bahwa kondisi habitat di kawasan ini cukup baik dengan penutupan vegetasi lebih dari 90%.

Sementara untuk fauna, LIPI dan WWF Indonesia (2003) juga melaporkan bahwa kawasan Tesso Nilo memiliki indeks keanekaragaman mamalia yang tinggi yakni 3,696; dijumpai 23 jenis mamalia dan dicatat sebanyak 34 (16,5% dari 206 jenis mamalia yang terdapat di Sumatera) jenis dimana 18 jenis berstatus dilindungi serta 16 jenis termasuk rawan punah menurut IUCN. Selanjutnya tercatat ada 114 jenis burung, 50 jenis ikan, dan 33 jenis herpetofauna.

Namun, luas tutupan hutan alam di Taman Nasional Tesso Nilo kian menyusut dari waktu ke waktu. Perambahan liar yang terus terjadi hingga hari ini menyebabkan kawasan hutan tropis dataran rendah di Sumatera tersebut berada dalam kondisi kritis. Analisis WWF  menyoroti bahwa dari 83 ribu hektar, hutan di Tesso Nilo  yang tersisa saat ini hanya 25% nya saja atau sekitar 20 ribu hektar. Artinya, perambahan liar terjadi hampir di seluruh wilayah di dalam hutan Tesso Nilo.

Penjarahan lahan juga banyak dijumpai di kawasan hutan Tesso Nilo. Pelaku penjarahan dan klaim lahan tidak hanya masyarakat setempat yang kondisi ekonominya terbatas namun juga pendatang yang membutuhkan lahan untuk memperluas kebun dan menggantungkan hidupnya. Disamping itu, spekulan tanah dan cukong juga mulai bermunculan dengan tujuan memperjual-belikan lahan dan membuat kebun sawit. Prof Hariadi Kartodihardjo dalam harian Antara 5 Maret 2018 mengungkapkan sebanyak 58 pabrik pengolahan (PKS) sawit beroperasi secara ilegal di dalam kawasan hutan ekosistem Tesso Nilo, Riau. Kondisi lansekap Tesso Nilo yang mengalami alih fungsi masif telah menyebabkan hilangnya habitat alami gajah sumatera.

Hal itu pula yang menyebabkan populasi Gajah Sumatera berada di ambang kepunahan. Penelitian yang dilakukan oleh WWF bersama dengan lembaga Eikjman dan Universitas Riau tahun 2013 menyebutkan bahwa populasi gajah yang tersisa di Riau saat ini hanya berkisar 300-330 ekor dan 147 ekor diantaranya berada di blok Tesso Nilo.

gambar 1

Perbandingan jumlah populasi gajah yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo dan Taman Nasional Way Kambas (Sumber : data dari WWF, Eikjman, dan Universitas Riau dalam jurnal berjudul Non-Invasive Genetic Assessment of Sumatran Elephant Population in Way Kambas and Tesso Nilo National Park)

Wishnu Sukmantoro, anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia menyebutkan dalam kurun waktu 2012-2014, kematian gajah di Tesso Nilo mencapai 20 ekor. “Sebagian besar gajah di sana mati akibat diracun. Padahal, secara ideal Taman Nasional Tesso Nilo mampu menampung 400-700 ekor gajah”, ungkap Wishnu saat dihubungi.

Kepunahan Gajah mengancam Keanekaragaman Hayati di Tesso Nilo

Gajah Sumatera, salah satu jenis satwa liar yang paling tertekan oleh perubahan lansekap Tesso Nilo. Kini Gajah Sumatera telah memasuki kategori kritis, hanya selangkah dari kepunahan. Penyusutan atau hilangnya habitat satwa besar ini telah memaksa mereka masuk ke kawasan berpenduduk sehingga memicu konflik manusia dan gajah, yang sering berakhir dengan kematian gajah dan manusia, kerusakan lahan kebun, tanaman dan harta benda.

Selain pembalakan liar dan penjarahan lahan, ancaman lain yang paling nyata terhadap populasi gajah di Tesso Nilo adalah perburuan.  Kakinya dijerat, kemudian gadingnya diambil. Belum lagi keberadaan gajah yang dianggap masyarakat sebagai hama bagi tanaman dan kebun milik mereka, membuat laju kematian gajah semakin cepat dan meningkat. Hal ini jelas mengancam eksistensi hutan karena komposisi hutan kemungkinan akan berubah ketika jenis hewan tertentu menghilang, terutama gajah.

Hingga saat ini, banyak masyarakat yang belum menyadari arti penting keberadaan gajah. Padahal, peranan gajah dalam suatu habitat sangat diperlukan, karena gajah merupakan umbrella species bagi habitatnya dan mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Artinya, konservasi mamalia ini akan membantu mempertahankan keanekaragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya,  sehingga akhirnya ikut menyelamatkan berbagai spesies kecil lainnya.

Selain itu, gajah juga memainkan peran penting dalam penyebaran benih. Benih beberapa tanaman perlu melewati proses pencernaan gajah dulu sebelum dapat tumbuh. Ahli Ekologi dari WWF Indonesia, Sunarto menjelaskan bahwa dalam satu hari, gajah mengonsumsi sekitar 150 kg makanan dan 180 liter air dan membutuhkan areal jelajah hingga 20 km persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran gajah akan tersebar ke seluruh areal hutan yang dilewatinya dan akhirnya membantu proses regenerasi hutan.

Sunarto kemudian menambahkan bahwa dalam melakukan upaya konservasi, banyak aspek yang harus dilihat. “Hutan tidak hanya terdiri dari tumbuhan. Hutan pun juga butuh penyebar biji, seperti gajah. Jika gajah berkurang, nilai kehati pun lama kelamaan akan turun. Sebagai hewan yang membutuhkan wilayah jelajah yang luas, kita tidak boleh menyerah untuk menyelamatkan Tesso Nilo” jelasnya saat dihubungi.

Baru-baru ini, peneliti dari Thailand (dalam jurnal berjudul Different megafauna vary in their seed dispersal effectiveness of the megafaunal fruit Platymitra macrocarpa, 2018) melakukan penelitian untuk mengukur efektivitas penyebaran benih antara gajah, beruang rusa sambar , dan owa pada buah P. Macrocarpa. Hasil studinya menyebutkan bahwa gajah adalah penyebar benih yang paling efektif  sebesar 37% dibandingkan hewan megafauna lainnya. Selanjutnya yang tak kalah penting adalah bahwa hilangnya hewan-hewan ini dapat secara signifikan mengubah komposisi pohon dan bahkan kemampuan hutan untuk menyimpan karbon.

Harapan Masa Depan

Situasi Tesso Nilo saat ini memang kritis. Namun, selimut hutan yang semakin ciut tak membuat beberapa pihak patah arang untuk menyelamatkan hutan serta gajah  yang tersisa. Guna menyelesaikan keruwetan Tesso Nilo, pemerintah bersama dengan berbagai stakeholder serta TNI Polri saat ini membentuk program Revitalisasi ekosistem Tesso Nilo (RETN) yang berbasis masyarakat. Sederhananya, RETN dirancang untuk memulihkan kawasan yang kini kebun sawit jadi hutan kembali dan merelokasi seluruh warga dalam taman nasional ke luar kawasan.

Upaya lain yang telah  dilakukan oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo selaku pengelola kawasan yakni dengan melibatkan para pihak untuk melakukan ekspedisi Taman Nasional Tesso Nilo setiap tahunnya. Hal ini bertujuan untuk memperbaharui data dan informasi terkini mengenai keanekaragaman hayati dan kondisi tutupan hutan di dalamnya.

Tidak hanya hutan, upaya perlindungan gajah yang ada di Tesso Nilo juga telah dilakukan oleh WWF dan Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo sejak tahun 2004 dengan membentuk tim Elephant Flying Squad. Tim ini bertugas melakukan patroli gabungan serta penggiringan gajah liar yang memasuki kebun masyarakat untuk kembali ke TNTN sehingga dapat mengurangi konflik antara gajah dan manusia. Setidaknya, tim Flying Squad terbukti mampu menekan laju kematian gajah akibat konflik hingga 63,8% – 78,7% sejak tahun  2004-2010.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, kesadaran masyarakat untuk sama-sama menjaga hutan yang tersisa ini masih menjadi musuh  terbesar. Namun dengan tekad kuat dan langkah-langkah yang nyata, asa masih dapat dirajut sebelum kehancuran yang lebih parah terjadi.

***

Tulisan juga tersedia dalam bentuk infografis

infografis merajut asa untuk gajah dan tesso nilo

 

Iklan
0

Kondisi Keanekaragaman Hayati Kian Memburuk, Ma(mp)ukah Kita Memperbaikinya?

Tanggal 22 Mei 2018 lalu, dunia baru saja memperingati Hari Keanekaragaman Hayati dengan mengangkat tema “Celebrating the 25th Year of The Implementation of the Convention of Biological Diversity”. Sejak tahun 1992, PBB telah menetapkan tanggal 22 Mei sebagai Hari Keanekaragaman Internasional, sekaligus menandakan telah selesainya naskah final Convention on Biological Dioversity (CBD).

Hingga saat ini, berbagai negara di dunia tak pernah absen merayakannya dengan cara-cara yang unik. Sebagai negara yang menyandang prediket “Megabiodiversity Country”, Indonesia pun turut memperingatinya melalui berbagai kegiatan, mulai dari mengadakan pameran spesimen di lingkungan kampus, kerja bakti di taman wisata, hingga penanaman pohon.

Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa hal ini sangat penting untuk diperingati?

Ancaman terhadap keanekaragaman hayati

Indonesia telah menjadi rumah bagi lebih dari 15% total keanekaragaman hayati yang ada di dunia. Release data Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2014 mengungkapkan bahwa Keanekaragaman Hayati Indonesia menduduki tempat pertama di dunia dalam kekayaan jenis mamalia (515 jenis, 36 % diantaranya endemik) dan kekayaan jenis kupu-kupu swallowtail (121 jenis, 44 % di antaranya endemik). Kemudian menduduki tempat ketiga dalam kekayaan jenis reptil (lebih dari 600 jenis), tempat keempat dalam kekayaan jenis burung (1519 jenis, 28 % diantaranya endemik), tempat kelima dalam kekayaan jenis amfibi (lebih dari 270 jenis) dan tempat ketujuh dalam kekayaan flora berbunga.

Akan tetapi, hal ini tampaknya tidak akan berlangsung lama lantaran ancaman eksploitasi yang kian hari terjadi secara masif, mengancam keberlangsungan keanekaragaman hayati yang tersisa. Hal ini bisa kita lihat dari publikasi yang ada di berbagai media saat ini. Dikutip dari rilis yang dikeluarkan oleh WWF Indonesia melalui laporan “Living Planet Report 2016”, selama kurun waktu 40 tahun antara 1970, populasi mamalia, burung reptil, amfibi dan ikan di seluruh dunia turun sebesar 52%. Tercatat pula 38% satwa liar daratan hilang, 36% kehidupan laut hilang dan 81% satwa liar air tawar hilang.

EH

Dalam beberapa tahun terakhir, bumi tengah berjibaku melawan deforestasi yang menjadi momok untuk alam Indonesia. Bahkan Indonesia hingga saat ini masih tercatat sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi kedua di dunia, yakni dua juta pertahun. (Sumber : Guinness Book of World Records, 2000).

Merujuk pada perhitungan Ditjen Planologi KLHK, angka deforestasi Indonesia periode 2014-2015 mencapai 1,09 juta hektar. Analisis WRI pun menemukan bahwa dari tahun 2000 hingga 2015, hampir 1,5 juta hektar hutan primer yang dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit serta serat kayu.

Selanjutnya, deforestasi atau kerusakan hutan menyumbang hampir 25% dari emisi Gas Rumah Kaca dunia. Jumlah emisi Indonesia terbilang besar; dua miliar ton karbondioksida per tahun atau 10% dari emisi karbondioksida dunia. Akibatnya, Indonesia menempati urutan ke tiga pengasil emisi CO2 terbesar di bawah Amerika Serikat dan China. Kenaikan emisi karbondioksida ini kemudian berbanding lurus dengan  meningkatnya suhu bumi.

Jika dibandingkan dengan kondisi periode 1961-1990, kenaikan suhu bumi secara global pada tahun 2016 sebesar 0,83 derajat celsius. Sementara di Indonesia, penemuan National Oceanic and Atmospheric Agency (NOAA) mengungkapkan bahwa suhu rata-rata permukaan bumi pada tahun 2016 adalah sekitar 0,45 hingga 0,56 derajat celsius di atas suhu rata-rata bumi pada periode 1981-2010. Ironisnya lagi, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB meramalkan, pada tahun 2100, suhu bumi meningkat rata-rata 5,8 derajat celsius. Ramalan terdekat, antara 2030 hingga 2050, suhu global naik antara 1,50 hingga 4,5 derajat celsius. Fenomena ini biasa dikenal dengan sebutan pemanasan global.

Perlahan namun pasti, pemanasan global telah menyebabkan perubahan iklim yang signifikan seperti yang terjadi di negara kita saat ini. Hal ini jelas akan membawa dampak buruk bagi keanekaragaman hayati mulai dari tingkatan spesies hingga ekosistem dikarenakan masing-masing spesies memiliki rentang suhu yang berbeda untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Kenaikan suhu bumi akan membuat beberapa jenis spesies berada di luar batas toleransi suhu maksimumnya sehingga tidak mampu bertahan hidup dan terancam punah.

Hal ini terbukti dari data yang di release oleh lokadata, bahwa saat ini Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan jumlah flora dan fauna terancam punah terbanyak, setelah Ekuador, Amerika Selatan, dan Madagaskar, Afrika Timur. Miris bukan? Padahal, keanekaragaman hayati berperan penting untuk membentuk keseimbangan dan keberlangsungan hidup bumi. Sederhananya, tanpa keanekaragaman hayati, tak akan ada masa depan.

kepunahan flora

Jika kita telisik lebih dalam, sangat jelas bahwa dibalik kehancuran yang telah dijabarkan di atas, manusia lah yang menjadi dalangnya. Fakta di atas menjadi bukti bahwa meski berbagai kampanye telah digalakkan, nyatanya hal itu belum sepenuhnya mampu membuat masyarakat memahami pentingnya keanekeragaman hayati ini.

Di saat pemerintah sibuk melakukan upaya konservasi satwa liar, masyarakat sebaliknya malah senang membeli cerutu dari gading gajah, atau bangga mengenakan tas berbahan kulit harimau. Di saat berbagai LSM lingkungan serta aktivis lingkungan lainnya sibuk menanam seribu pohon, masyarakat justru sibuk menghabisi hutan. Alih-alih “mengantisipasi” deforestasi dan perubahan iklim yang jauh di mata, bencana di “depan mata” pun belum banyak menggugah pemahaman masyarakat bahwa keanekaragaman hayati kita kian memburuk, bahwa hutan kita sedang di ambang kehancuran.

Pada akhirnya, kemauan kita lah yang menjadi kuncinya. Sudah saatnya kita menyadari, bahwa sebenarnya ada masalah besar yang menuntut peran kita, dibalik adanya peringatan Hari Keanekaragaman Hayati ini. Tanyakan kepada diri sendiri, “sudah sejauh mana kita ikut memperbaiki alam, ataupun menjaga sumber daya yang tersisa ini?” Karena bagaimanapun, memperbaiki yang telah rusak dan menjaga apa yang tersisa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun semua dari kita harus ikut berupaya. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan akan membawa perubahan yang besar untuk alam ini jika dilakukan bersama. (*)

0

Samsudin, Pejuang Konservasi dari Indramayu

GAMBAR 1. Samsudin, Sang pendongeng keliling

Samsudin, Sang pendongeng keliling. Foto : Debby Kurniawan

Gigih dan berani. Itulah dua sikap yang begitu melekat pada sosok Samsudin, pejuang konservasi yang berasal dari Indramayu. Kegigihan pria kelahiran 8 September 1971 ini dalam memperjuangkan konservasi di Indonesia hanya didorong oleh keinginan sederhana, yakni agar lebih banyak orang yang peduli tentang arti penting konservasi. Bermodalkan sepeda tua miliknya, pria ini mendedikasikan hidupnya untuk menjadi penyambung lidah para peneliti serta conservationist dengan berkeliling untuk mendongeng dari satu daerah ke daerah lainnya.

Pria yang dulunya berprofesi sebagai guru honor di salah satu SD di Indramayu ini memiliki kegalauan terhadap kondisi satwa serta lingkungan yang semakin memprihatinkan. Bermula saat beliau berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon. Saat itu, tengah terjadi konflik antara masyarakat dengan taman nasional dikarenakan sebagian masyarakat tidak setuju dengan program-program konservasi yang dilakukan oleh pihak taman nasional. Sejak itu, Samsudin menyadari bahwa masih banyak orang-orang yang tidak memahami arti penting konservasi. Ia pun akhirnya berencana untuk ikut ambil bagian dalam upaya konservasi dengan mengagas suatu gerakan kampanye yang dinamakan “pendongeng keliling”. Memiliki latar belakang seorang pendidik, beliau tidak hanya piawai dalam mendongeng, tetapi juga terampil dalam membuat lukisan, gambar, wayang serta  boneka dari kertas yang ia gunakan untuk mendongeng.

Untuk menjalankan misi yang berlandaskan kesukarelaaan ini , beliau mengandalkan uluran tangan dari berbagai pihak. “Bukan berarti pasrah, tapi prinsip saya,  jalan saja dulu.  Saya yakin nanti di jalan akan ada bantuan.” Ungkapnya. Awalnya, ia sempat meminta dukungan dari pihak yayasan serta donatur yayasan, namun tidak ada jawaban.  Alih-alih mengeluh, ia memilih bergerak secara swadaya. Meski begitu, beliau juga selektif dalam menerima bantuan. Seringkali terbentur dengan regulasi, membuatnya tidak ingin bersentuhan langsung dengan pihak-pihak yang melanggar nilai konservasi.

Setahun sudah ia menggeluti profesi yang sekilas terlihat biasa ini. Tentunya kegiatan ini bukan tanpa hambatan. Ketidakpedulian masyarakat dalam konservasi, termasuk sebagian mahasiswa serta civitas akademik menjadi tantangan tersendiri. Ditambah lagi, sebagian media juga tidak tertarik mengangkat isu yang ia bawa. Bahkan, tak sedikit penolakan yang ia terima saat hendak mendongeng di sekolah-sekolah. Untungnya, berkat bantuan serta dukungan berbagai pihak mulai dari NGO, pemerhati budaya, Ikatan Guru Indonesia, Komunitas Pemuda serta lembaga lainnya,  ia telah mengkampanyekan konservasi satwa ke beberapa daerah diantaranya DKI Jakarta, Banten, Lampung, Bengkulu, Aceh, Jambi, Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Kemarin, giliran Jawa Timur yang sedang ia kunjungi.

GAMBAR 2. Saat mendongeng tentang Harimau Sumatera dalam acara Global Tiger Day bersama Tiger Heart Riau

Saat mendongeng tentang Harimau Sumatera dalam acara Global Tiger Day bersama Tiger Heart Riau. Foto : Fredy Handoko.

Selain Harimau Sumatera, ia juga mengkampanyekan satwa lainnya seperti Badak Sumatera dan Gajah Sumatera. Saat ini, Harimau Sumatera sudah berstatus critically endangered atau terancam punah. Menanggapi hal itu, Samsudin ikut prihatin. “Hingga saat ini Harimau Sumatera masih diburu. Fragmentasi hutan akibat terjadinya alih fungsi hutan juga menyebabkan pengurangan habitat harimau itu sendiri. Hal ini membuat saya terenyuh. Sudah sangat sepantasnya kita harus gencar berkampanye ke masyarakat banyak.  Kita harus bisa mendorong pemerintah untuk mengambil kebijakan yang serius agar nasib Harimau Sumatera tidak sama dengan Harimau Jawa.”

GAMBAR 3. Melukis Harimau Sumatera bersama anak-anak.

Saat mendongeng tentang Harimau Sumatera dalam acara Global Tiger Day bersama Tiger Heart Riau. Foto : Fredy Handoko.

Meskipun tantangan demi tantangan terus diterima, ia mengaku tidak gentar menghadapinya. Perjuangannya untuk menyebarkan semangat konservasi akan terus berlangsung. Di satu sisi, ia tak memungkiri bahwa terkadang ia merasa lelah saat harus mengayuh sepeda berpuluh-puluh kilo dari satu daerah ke daerah lainnya. Namun, rasa lelahnya itu segera terkalahkan dengan tekadnya yang tidak ingin membiarkan orang-orang jahat merusak alam dan isinya. “Saya akan terus berusaha hingga akhirnya banyak pihak yang peduli dengan nasib alam dan satwa. Ketika saya bisa menemukan tempat yang masih asri, hutan yang hijau, lautan yang bersih, arsitektur-arsitektur lamanya, serta keramahan penduduknya, menjadi kesan yang tidak akan pernah saya lupakan saat saya berkeliling.” Kenangnya.

Meski baginya musuh terbesar dalam mengkampanyekan konservasi adalah ketidakpedulian masyarakat, ia sangat berharap agar masyarakat juga ikut mengkampanyekan konservasi satwa serta lingkungan. “Banyak cara yang dapat kita lakukan, asalkan kita mau peduli dan ingin ikut ambil bagian dalam upaya konservasi.” tegasnya. Dibenaknya, Samsudin juga punya rencana besar. Kedepannya, ia akan terus melanjutkan perjuangan hingga ke seluruh provinsi di Indonesia.

0

Dalam Kenangan (Part II)

c0xyfxpuqaao8_r-jpg-large

Tokyo. Foto : Pio Kharisma

Usai malam itu, aku memutuskan untuk pergi, ke tempat di mana aku tak akan teringat denganmu. Aku kunjungi pantai, karna katamu pantai adalah tempat yang baik untuk berkeluh kesah kepada senja. -Ah, lagi-lagi masih katamu. Padahal aku baru saja berkata bahwa aku tak ingin mengingatmu-

Aku juga membaca buku yang tak pernah kita baca sebelumnya, aku datang ke cafe yang sama sekali tak menyediakan kopi ataupun greentea. Dan aku memilih untuk duduk di sudut cafe yang hanya menyediakan satu kursi. Beginilah caraku menerima kepergianmu -yang padahal belum sepenuhnya aku terima-

Namun aku tahu, sekuat apapun aku menghindar, rindu pasti kan datang. Sejauh apapun aku berlari, kenangan adalah satu hal yang tak akan hilang.


Di pantai itu lalu aku berteriak, “Kenapa tidak sekalian saja kau bawa semua kenangan ini pergi bersamamu?” Andai kau tahu bahwa kenangan dan kerinduan yang tertinggal ini sungguh curang. Mereka terus bertambah, tanpa tahu caranya berkurang. Sementara kau? Kau pergi dan membiarkanku menghadapi ini sendiri.


Senja ternyata memperhatikanku yang sedari tadi marah dan berteriak. Namun ia tak berkata apa-apa. Aku mencoba bertanya kepadanya ,”Apa kau tahu kapan dia akan kembali?”

Senja masih diam. Akupun memakinya,”Kenapa kau terus melihatku?! Dia bilang kau akan mendengar keluh kesahku. Kenapa kau tidak menjawabku?!”


Aku tertunduk lemah dan menghela nafas panjang. “Maafkan aku, senja. Aku tak bermaksud memakimu. Kau tahu, aku hanya berharap ia sama sepertimu yang pasti menghilang, namun akan datang kembali. ” Lanjutku sambil menangis.

Senyatanya, Senja telah menghilang setelah aku memakinya.


*Terinspirasi dari foto “Tokyo” oleh Pio Kharisma

0

Dalam Kenangan

gadis-berlin

Gadis Berlin. Foto : Pio Kharisma (Liverpool, September 2016)

Sama seperti malam-malam sebelumnya, aku kembali duduk di cafe ini. Tempat aku dan dia menghabiskan hari ditemani dua gelas minuman. Aku lebih senang dengan greentea, sementara ia memilih kopi pahit tanpa gula. Dia bilang, kopi akan membuatnya terus terjaga, dengan begitu ia tak akan kehilangan sedikitpun hal tentangku.

Tiap malam di akhir pekan, ia selalu mengajakku kemari. Bahkan kehadiran kami berdua sudah tidak asing lagi bagi pelayan di cafe ini.

“Akhirnya pasangan sejoli datang! Silakan masuk tuan dan putri, singgasana di sudut itu akan selalu jadi milik kalian berdua!” Sapa pelayan itu ketika kami datang.

Kami lalu tertawa geli dan meledeknya,”Terimakasih, nona. Caramu menggoda kami malam ini cukup berbeda, sedikit mengalami peningkatan.”

“Haha, tidak apa. Aku turut bahagia jika kalian bahagia!” Balasnya.

Namanya Dewi, pelayan yang menjadi saksi perjalanan kisah kami. Masih teringat jelas, setahun lalu, ketika Dewi datang ke mejaku dengan membawa secarik kertas bertuliskan,”hey, apakah aku boleh duduk di sana? Aku hanya ingin tahu tentang buku yang sedang kau baca :)”

Lalu aku tersenyum, saat tahu bahwa Dewi membawa pesan itu dari seorang lelaki yang duduk hanya berjarak empat meja dari mejaku.

“Sepertinya ia menarik.” Batinku.

“Apa kau juga penyuka Orhan Pamuk?” Tiba-tiba ia menghampiri dan duduk di depanku.

“Ya.” Jawabku singkat sambil sedikit memberikan lengkungan di wajah.

“Bolehkah aku bercerita tentang buku yang sedang kau baca? Aku Rio. Aku juga penyuka Orhan Pamuk.”

Demikianlah malam itu kami berkenalan. Tebakanku benar, ia memang menarik.

Tak hanya tentang sebuah buku -di malam malam berikutnya- ia juga sering mengajakku berdiskusi tentang kericuhan politik yang tak kunjung usai atau soal pertentangan antara kaum borjuis dan kaum proletar dalam sejarah kontemporer.  Ia bahkan juga tahu tanggal berapa Plato lahir, bagaimana cerutu menjadi budaya di Negera Kuba, dan beberapa jenis subgenre musik Jazz.

Dia memang senang bercerita, dan aku senang mendengarkan. Apalagi ketika ia menyelipkan sedikit komedi-satirnya di tengah pembicaraannya, hanya untuk membuatku tertawa. Nyatanya, tepat di malam -yang kesekian kalinya- itu, aku benar-benar jatuh cinta.

——–

Malam ini semakin larut, dan aku semakin kalut. Hujan di luar sana seakan mengerti bahwa hatiku masih hancur layaknya kota Hiroshima dan Nagasaki yang pernah ia ceritakan.

Sesekali aku memandangi layar gawaiku, membuka pesan terakhir yang ia kirimkan -lima bulan lalu- sebelum ia pergi untuk selamanya,

“Terkadang dalam hidup, Tuhan mengirimkan seseorang hanya untuk menjadi pengalaman hidup, bukan teman hidup. Aku senang bisa mengenalmu, walau waktu kita tak lama. Terimakasih atas cintamu, Alin.”

Aku menutup ponselku dan kembali dalam lamunan. Dewi yang sedari tadi mengamatiku, juga tak ingin mengusik. Ia tahu bahwa aku sedang tenggelam dalam kenangan.

***

*Terinspirasi dari foto Pio Kharisma “Gadis Berlin” (Liverpool, September 2016)

1

Sudahkah Kita Mencegah Korupsi?

6823414285_362c5c3d44

Lawan Korupsi. Sumber : Google.com

Korupsi, berasal dari bahasa Belanda corruptie yang memiliki arti kebusukan, keburukan, ketidakjujuran, dan suatu tindakan penyimpangan dari kesucian (The Lexicon Webster Dictionary, 1978). Ketika mendengar kata “Korupsi”, saya jadi teringat dengan salah satu Hikayat karya sastrawan Riau yang berjudul Hikayat Batu-Batu (2005). Hikayat ini merupakan kumpulan cerpen yang lahir dari nasib pedih masyarakat (Melayu) Riau. Salah satu cerpennya berjudul Tembok Pak Rambo yang menyorot tragedi kepalsuan, kebohongan, korupsi, kemiskinan, dan kemelaratan yang masih menimpa bangsa dan negeri (Melayu) Riau dan tanah air ini.

Tidak bisa dipungkiri, korupsi di negara ini sudah jauh melampaui batas toleransi. Korupsi ibarat darah yang mengalir di pembuluh darah Indonesia, terselubung dan tiada henti. Melansir data indeks persepsi korupsi (Corruption Perception Index) yang dirilis oleh Lembaga Transparency International (TI), Indonesia menduduki peringkat ke-88 sebagai negara yang melakukan korupsi, dari 165 negara yang diamati. Selain itu, Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyebutkan bahwa dari 325 perkara korupsi yang berhasil terpantau di tahun 2016, nilai kerugian negara yang timbul adalah Rp. 1,499.408.896.636 atau sekitar 1,4 Triliyun rupiah. Hal ini sungguh disayangkan, mengingat KPK telah dan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk memberantas korupsi namun banyak pihak yang tidak jera.

Jika kita telaah lagi, sebenarnya banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya korupsi di negeri ini antara lain karena adanya niat dan kesempatan, sistem yang tidak tepat, lingkungan serta kebiasaan buruk dari diri sendiri. Lalu bagaimana cara memberantas korupsi? Menurut saya, belum ada cara yang efektif untuk mengucapkan sayonara kepada perbuatan keji yang bernama korupsi ini. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan aturan hukum yang ada. Saking sulitnya, saya bahkan sempat berfikir,”Mungkin lebih baik uang diubah menjadi plastik atau benda yang tak bernilai agar tidak ada lagi yang melakukan korupsi di negeri ini.”

Memberantas korupsi memang membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Namun bagi saya, hal itu akan terjadi jika tiap individu memiliki pendirian yang kokoh untuk tidak melakukan korupsi. Karena tidak menutup kemungkinan jika kita diberikan kesempatan yang sama, apakah kita yakin tidak akan melakukan hal yang sama? Maka dari itu, sebelum jauh-jauh memberantas, ada baiknya kita melakukan upaya pencegahan terlebih dahulu dengan membentengi diri sendiri.

Beberapa cara yang telah dan selalu saya lakukan untuk menjauhkan diri dari kata korupsi  adalah :

  • Adanya rasa takut kepada Allah SWT dan selalu ingat bahwa Allah Maha melihat. Dengan begitu, kita akan terbiasa berfikir sebelum melakukan sesuatu.
allah-maha-melihat

Allah is always watching you. Sumber : google.com

  • Melawan diri dari keinginan untuk melakukan tindakan serakah. Sejak kecil, orangtua saya selalu mengatakan “Kalau ambil nasi, secukupnya dulu, nak. Habiskan dulu yang itu. Kalau kamu masih lapar, baru ditambah lagi.” Berkat didikan tadi, hingga kini saya selalu belajar untuk tidak tergesa memuaskan nafsu karena nafsu yang berlebihan akan berujung pada keserakahan.
070512-resonansi

Basmi keserakahan. Sumber : google.com

  • Bersyukur dan hidup berkecukupan. Saat hendak membeli barang baru, saya selalu membiasakan diri untuk berfikir “Apakah saya memang benar-benar membutuhkan barang ini atau hanya sekedar keinginan?” Bagi saya, bersyukur dengan apa yang dimiliki dan memenuhi kebutuhan sewajarnya (sesuai dengan yang dibutuhkan), itu jauh lebih baik.
large

Don’t forget to say Alhamdulillah. Sumber : google.com

  • Tidak mencontek. Ini terdengar konyol, namun nyatanya hal ini sudah saya terapkan sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar hingga saya menjadi mahasiswi. Saat saya kanak-kanak, mencontek adalah hal yang tabu atau haram. Namun saat memasuki masa remaja, saya dipaksa untuk melihat realita yang tidak lagi sepolos pemikiran anak SD, salah satunya mencontek. Meskipun saat ini mencontek menjadi hal yang “lumrah“, saya tetap menolak melakukan itu. Bagi saya, mencontek bukanlah sebuah kenakalan biasa karena itu menyangkut kejujuran. Saya lebih percaya dengan apa yang saya kerjakan, berapapun hasil yang saya dapatkan nantinya. Adanya rasa takut tadi juga menjadi alasan saya untuk tidak mencontek. Mencontek sama dengan menipu diri sendiri. Jika diri sendiri saja ditipu, bagaimana dengan orang lain atau bahkan negara?
no-nyontek

Nyontek? NO! Sumber : google.com

  • Selalu berusaha mengejar impian dengan kerja keras. Sejak saya kecil, saya juga telah diajarkan mandiri oleh orang tua saya termasuk dalam meraih keinginan. Saya tidak mengenal yang namanya ‘jalan pintas’ dan memilih untuk menghargai proses. Ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri ketika saya mampu bersaing secara sportif dan mendapatkan sesuatu yang saya inginkan tanpa bantuan siapapun ataupun mengandalkan orang lain di belakang saya.
raih-impian-sukses

Raih impianmu.  Sumber : google.com

  • Mengikuti kegiatan relawan. Sejak SMA, saya telah aktif mengikuti kegiatan relawan. Menjadi relawan dalam berbagai kegiatan membuat saya terbiasa mengedepankan kepentingan orang lain dan tidak menjadikan uang sebagai tujuan utama.
relawan-e1425991870151

Menjadi Relawan. Sumber : google.com

Itulah beberapa hal sederhana namun berdampak besar yang telah saya terapkan kepada diri saya sendiri. Semuanya adalah langkah konkrit yang telah berhasil saya lakukan dalam mencegah korupsi. Jika saya bisa, mengapa orang lain tidak?  Bagi saya, apapun itu, semangat dan niatnya harus dimulai dari diri sendiri dahulu. Setelah itu baru ditularkan dan dilaksanakan bersama-sama. Karena saya yakin, selain hal buruk, hal baik sifatnya juga tertular dan bisa ditularkan.

Selain melalui tulisan, di beberapa kesempatan lain saya juga pernah “menularkan” upaya pencegahan korupsi ini. Salah satu contohnya ketika saya diundang sebagai pemateri dalam seminar motivasi di kampus saya. Saat itu saya selalu menekankan bahwa pembentukan karakter pada seorang mahasiswa sangat dibutuhkan agar mahasiswa memiliki karakter unggul yang disebut integritas, karena seseorang yang memiliki integritas akan bertindak sesuai dengan nilai dan prinsip yang ada, termasuk tidak melakukan korupsi. Di samping itu, saya juga berencana untuk bergabung langsung di komunitas anti korupsi, sehingga visi saya untuk menularkan semangat ini akan lebih tersampaikan. Dengan menularkan atau mengajak orang lain untuk melakukan upaya pencegahan, sedikit banyaknya akan membantu langkah KPK dalam memberantas korupsi.

Saya optimis, jika semua orang melakukan upaya pencegahan korupsi dari diri sendiri, maka selanjutnya akan lebih mudah untuk melawan dan menghentikan tindakan korupsi di negeri ini. Besar pula  harapan saya agar orang-orang dapat menjadikan peringatan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) ini sebagai pengingat “Sudahkah kita mencegah  korupsi?” 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Hari Anti Korupsi Internasional yang diselenggarakan KPK dan Blogger Bertuah Pekanbaru

 logo-kpk

logotuah

0

Build the Character of The Student for Having a Bright Future

Jpeg

When I speeched about the important of Character Building for a student on Engineering Expo. Location : Engineering Faculty of Riau University

Rampant of digressions, disorientation of value, unnormative and corruptive behaviour that exist is becoming a basic of how important to conduct a character building especially on college students. Character is a behaviour value of every personality which has been an identity of person. Everyone has character as a compass of moral in facing the life. As if we are in the jungle, we might not be getting lost if we always pay attention to our own compass. Our daily life can be equated as being in the jungle. Without having a good character, it’s going to be hard for us to face the various types of choice, temptation, or even the trouble that exists.

According to me, university as an educational institution has an important role in this character building. University has to make a commitment in creating the graduates which is not only smart but also having a good character in order to be able to compete at the international level. Due to the fact is, that based on the survey conducted by National Association of Colleges and Employers, at USA 2002, the expected quality of university graduates for the future are those who have a good soft skill.

Fortunately, my department is so active to serve the various types of character building of students, through the organization for instance. Just sharing, I by myself have proved that character building is important to do on students. I am the alumnus of Biology Department, Math and Science Faculty Riau University. When I was a student, I was active joining some campus organizations that was so important for my character building. Besides, I was also active joining some leadership trainings and character buildings that held by my department. From that, I had more courage to give my opinion ethically, to lead and to make a team work also another positive things. And also because of the organization, I was elected to be one of national scholarship awardee and I got a character building training in there which was so useful to me. Simple example that I am applying of is joining this speech competition. If I don’t have a character, I won’t be brave to stand here because, however, it needs a big courage when I have to stand in front of the judges giving my opinion. The character building can be conducted outside the campus, such as being around people, joining a positive community and occupying our self with some positive things and be out from our comfort zone.

Because of that, I am brave to say that every student has to have some excellent characters which are needed for the future, such as : integrity, synergy, empathy and professionalism. Integrity is honesty and courage. Integrity is the key for a person to be a leader because, someone with the high integrity will act in accordance with the value and principal exist. And I am sure, people with a good integrity are going to like the right process for the right result. Synergy means cooperate. Indonesia and even world don’t need the great and smart people who only for their selves, but need the people who are willing to be synergy and not selfish. Empathy is needed in order to make people having a concern of surroundings and behavior done or about how to treat people. Professionalism means spirit and performance that we show. To all of my friends, now is the time.  Don’t let yourself becoming a student who only chase the great mark but still being apathetic. Don’t let yourself becoming an activist with the low intellectual. Show the world that we are the students with a good character and high integrity!

Like what Prof. Jan Klopper said on Ir. Soekarno’s graduation day, certificate is only a piece of paper and not eternal. At last, the character of a person that will determine their future. That’s all from me. Thank you.