0

Dalam Kenangan (Part II)

c0xyfxpuqaao8_r-jpg-large

Tokyo. Foto : Pio Kharisma

Usai malam itu, aku memutuskan untuk pergi, ke tempat di mana aku tak akan teringat denganmu. Aku kunjungi pantai, karna katamu pantai adalah tempat yang baik untuk berkeluh kesah kepada senja. -Ah, lagi-lagi masih katamu. Padahal aku baru saja berkata bahwa aku tak ingin mengingatmu-

Aku juga membaca buku yang tak pernah kita baca sebelumnya, aku datang ke cafe yang sama sekali tak menyediakan kopi ataupun greentea. Dan aku memilih untuk duduk di sudut cafe yang hanya menyediakan satu kursi. Beginilah caraku menerima kepergianmu -yang padahal belum sepenuhnya aku terima-

Namun aku tahu, sekuat apapun aku menghindar, rindu pasti kan datang. Sejauh apapun aku berlari, kenangan adalah satu hal yang tak akan hilang.


Di pantai itu lalu aku berteriak, “Kenapa tidak sekalian saja kau bawa semua kenangan ini pergi bersamamu?” Andai kau tahu bahwa kenangan dan kerinduan yang tertinggal ini sungguh curang. Mereka terus bertambah, tanpa tahu caranya berkurang. Sementara kau? Kau pergi dan membiarkanku menghadapi ini sendiri.


Senja ternyata memperhatikanku yang sedari tadi marah dan berteriak. Namun ia tak berkata apa-apa. Aku mencoba bertanya kepadanya ,”Apa kau tahu kapan dia akan kembali?”

Senja masih diam. Akupun memakinya,”Kenapa kau terus melihatku?! Dia bilang kau akan mendengar keluh kesahku. Kenapa kau tidak menjawabku?!”


Aku tertunduk lemah dan menghela nafas panjang. “Maafkan aku, senja. Aku tak bermaksud memakimu. Kau tahu, aku hanya berharap ia sama sepertimu yang pasti menghilang, namun akan datang kembali. ” Lanjutku sambil menangis.

Senyatanya, Senja telah menghilang setelah aku memakinya.


*Terinspirasi dari foto “Tokyo” oleh Pio Kharisma

Iklan
0

Dalam Kenangan

gadis-berlin

Gadis Berlin. Foto : Pio Kharisma (Liverpool, September 2016)

Sama seperti malam-malam sebelumnya, aku kembali duduk di cafe ini. Tempat aku dan dia menghabiskan hari ditemani dua gelas minuman. Aku lebih senang dengan greentea, sementara ia memilih kopi pahit tanpa gula. Dia bilang, kopi akan membuatnya terus terjaga, dengan begitu ia tak akan kehilangan sedikitpun hal tentangku.

Tiap malam di akhir pekan, ia selalu mengajakku kemari. Bahkan kehadiran kami berdua sudah tidak asing lagi bagi pelayan di cafe ini.

“Akhirnya pasangan sejoli datang! Silakan masuk tuan dan putri, singgasana di sudut itu akan selalu jadi milik kalian berdua!” Sapa pelayan itu ketika kami datang.

Kami lalu tertawa geli dan meledeknya,”Terimakasih, nona. Caramu menggoda kami malam ini cukup berbeda, sedikit mengalami peningkatan.”

“Haha, tidak apa. Aku turut bahagia jika kalian bahagia!” Balasnya.

Namanya Dewi, pelayan yang menjadi saksi perjalanan kisah kami. Masih teringat jelas, setahun lalu, ketika Dewi datang ke mejaku dengan membawa secarik kertas bertuliskan,”hey, apakah aku boleh duduk di sana? Aku hanya ingin tahu tentang buku yang sedang kau baca :)”

Lalu aku tersenyum, saat tahu bahwa Dewi membawa pesan itu dari seorang lelaki yang duduk hanya berjarak empat meja dari mejaku.

“Sepertinya ia menarik.” Batinku.

“Apa kau juga penyuka Orhan Pamuk?” Tiba-tiba ia menghampiri dan duduk di depanku.

“Ya.” Jawabku singkat sambil sedikit memberikan lengkungan di wajah.

“Bolehkah aku bercerita tentang buku yang sedang kau baca? Aku Rio. Aku juga penyuka Orhan Pamuk.”

Demikianlah malam itu kami berkenalan. Tebakanku benar, ia memang menarik.

Tak hanya tentang sebuah buku -di malam malam berikutnya- ia juga sering mengajakku berdiskusi tentang kericuhan politik yang tak kunjung usai atau soal pertentangan antara kaum borjuis dan kaum proletar dalam sejarah kontemporer.  Ia bahkan juga tahu tanggal berapa Plato lahir, bagaimana cerutu menjadi budaya di Negera Kuba, dan beberapa jenis subgenre musik Jazz.

Dia memang senang bercerita, dan aku senang mendengarkan. Apalagi ketika ia menyelipkan sedikit komedi-satirnya di tengah pembicaraannya, hanya untuk membuatku tertawa. Nyatanya, tepat di malam -yang kesekian kalinya- itu, aku benar-benar jatuh cinta.

——–

Malam ini semakin larut, dan aku semakin kalut. Hujan di luar sana seakan mengerti bahwa hatiku masih hancur layaknya kota Hiroshima dan Nagasaki yang pernah ia ceritakan.

Sesekali aku memandangi layar gawaiku, membuka pesan terakhir yang ia kirimkan -lima bulan lalu- sebelum ia pergi untuk selamanya,

“Terkadang dalam hidup, Tuhan mengirimkan seseorang hanya untuk menjadi pengalaman hidup, bukan teman hidup. Aku senang bisa mengenalmu, walau waktu kita tak lama. Terimakasih atas cintamu, Alin.”

Aku menutup ponselku dan kembali dalam lamunan. Dewi yang sedari tadi mengamatiku, juga tak ingin mengusik. Ia tahu bahwa aku sedang tenggelam dalam kenangan.

***

*Terinspirasi dari foto Pio Kharisma “Gadis Berlin” (Liverpool, September 2016)

1

Sudahkah Kita Mencegah Korupsi?

6823414285_362c5c3d44

Lawan Korupsi. Sumber : Google.com

Korupsi, berasal dari bahasa Belanda corruptie yang memiliki arti kebusukan, keburukan, ketidakjujuran, dan suatu tindakan penyimpangan dari kesucian (The Lexicon Webster Dictionary, 1978). Ketika mendengar kata “Korupsi”, saya jadi teringat dengan salah satu Hikayat karya sastrawan Riau yang berjudul Hikayat Batu-Batu (2005). Hikayat ini merupakan kumpulan cerpen yang lahir dari nasib pedih masyarakat (Melayu) Riau. Salah satu cerpennya berjudul Tembok Pak Rambo yang menyorot tragedi kepalsuan, kebohongan, korupsi, kemiskinan, dan kemelaratan yang masih menimpa bangsa dan negeri (Melayu) Riau dan tanah air ini.

Tidak bisa dipungkiri, korupsi di negara ini sudah jauh melampaui batas toleransi. Korupsi ibarat darah yang mengalir di pembuluh darah Indonesia, terselubung dan tiada henti. Melansir data indeks persepsi korupsi (Corruption Perception Index) yang dirilis oleh Lembaga Transparency International (TI), Indonesia menduduki peringkat ke-88 sebagai negara yang melakukan korupsi, dari 165 negara yang diamati. Selain itu, Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyebutkan bahwa dari 325 perkara korupsi yang berhasil terpantau di tahun 2016, nilai kerugian negara yang timbul adalah Rp. 1,499.408.896.636 atau sekitar 1,4 Triliyun rupiah. Hal ini sungguh disayangkan, mengingat KPK telah dan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk memberantas korupsi namun banyak pihak yang tidak jera.

Jika kita telaah lagi, sebenarnya banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya korupsi di negeri ini antara lain karena adanya niat dan kesempatan, sistem yang tidak tepat, lingkungan serta kebiasaan buruk dari diri sendiri. Lalu bagaimana cara memberantas korupsi? Menurut saya, belum ada cara yang efektif untuk mengucapkan sayonara kepada perbuatan keji yang bernama korupsi ini. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan aturan hukum yang ada. Saking sulitnya, saya bahkan sempat berfikir,”Mungkin lebih baik uang diubah menjadi plastik atau benda yang tak bernilai agar tidak ada lagi yang melakukan korupsi di negeri ini.”

Memberantas korupsi memang membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Namun bagi saya, hal itu akan terjadi jika tiap individu memiliki pendirian yang kokoh untuk tidak melakukan korupsi. Karena tidak menutup kemungkinan jika kita diberikan kesempatan yang sama, apakah kita yakin tidak akan melakukan hal yang sama? Maka dari itu, sebelum jauh-jauh memberantas, ada baiknya kita melakukan upaya pencegahan terlebih dahulu dengan membentengi diri sendiri.

Beberapa cara yang telah dan selalu saya lakukan untuk menjauhkan diri dari kata korupsi  adalah :

  • Adanya rasa takut kepada Allah SWT dan selalu ingat bahwa Allah Maha melihat. Dengan begitu, kita akan terbiasa berfikir sebelum melakukan sesuatu.
allah-maha-melihat

Allah is always watching you. Sumber : google.com

  • Melawan diri dari keinginan untuk melakukan tindakan serakah. Sejak kecil, orangtua saya selalu mengatakan “Kalau ambil nasi, secukupnya dulu, nak. Habiskan dulu yang itu. Kalau kamu masih lapar, baru ditambah lagi.” Berkat didikan tadi, hingga kini saya selalu belajar untuk tidak tergesa memuaskan nafsu karena nafsu yang berlebihan akan berujung pada keserakahan.
070512-resonansi

Basmi keserakahan. Sumber : google.com

  • Bersyukur dan hidup berkecukupan. Saat hendak membeli barang baru, saya selalu membiasakan diri untuk berfikir “Apakah saya memang benar-benar membutuhkan barang ini atau hanya sekedar keinginan?” Bagi saya, bersyukur dengan apa yang dimiliki dan memenuhi kebutuhan sewajarnya (sesuai dengan yang dibutuhkan), itu jauh lebih baik.
large

Don’t forget to say Alhamdulillah. Sumber : google.com

  • Tidak mencontek. Ini terdengar konyol, namun nyatanya hal ini sudah saya terapkan sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar hingga saya menjadi mahasiswi. Saat saya kanak-kanak, mencontek adalah hal yang tabu atau haram. Namun saat memasuki masa remaja, saya dipaksa untuk melihat realita yang tidak lagi sepolos pemikiran anak SD, salah satunya mencontek. Meskipun saat ini mencontek menjadi hal yang “lumrah“, saya tetap menolak melakukan itu. Bagi saya, mencontek bukanlah sebuah kenakalan biasa karena itu menyangkut kejujuran. Saya lebih percaya dengan apa yang saya kerjakan, berapapun hasil yang saya dapatkan nantinya. Adanya rasa takut tadi juga menjadi alasan saya untuk tidak mencontek. Mencontek sama dengan menipu diri sendiri. Jika diri sendiri saja ditipu, bagaimana dengan orang lain atau bahkan negara?
no-nyontek

Nyontek? NO! Sumber : google.com

  • Selalu berusaha mengejar impian dengan kerja keras. Sejak saya kecil, saya juga telah diajarkan mandiri oleh orang tua saya termasuk dalam meraih keinginan. Saya tidak mengenal yang namanya ‘jalan pintas’ dan memilih untuk menghargai proses. Ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri ketika saya mampu bersaing secara sportif dan mendapatkan sesuatu yang saya inginkan tanpa bantuan siapapun ataupun mengandalkan orang lain di belakang saya.
raih-impian-sukses

Raih impianmu.  Sumber : google.com

  • Mengikuti kegiatan relawan. Sejak SMA, saya telah aktif mengikuti kegiatan relawan. Menjadi relawan dalam berbagai kegiatan membuat saya terbiasa mengedepankan kepentingan orang lain dan tidak menjadikan uang sebagai tujuan utama.
relawan-e1425991870151

Menjadi Relawan. Sumber : google.com

Itulah beberapa hal sederhana namun berdampak besar yang telah saya terapkan kepada diri saya sendiri. Semuanya adalah langkah konkrit yang telah berhasil saya lakukan dalam mencegah korupsi. Jika saya bisa, mengapa orang lain tidak?  Bagi saya, apapun itu, semangat dan niatnya harus dimulai dari diri sendiri dahulu. Setelah itu baru ditularkan dan dilaksanakan bersama-sama. Karena saya yakin, selain hal buruk, hal baik sifatnya juga tertular dan bisa ditularkan.

Selain melalui tulisan, di beberapa kesempatan lain saya juga pernah “menularkan” upaya pencegahan korupsi ini. Salah satu contohnya ketika saya diundang sebagai pemateri dalam seminar motivasi di kampus saya. Saat itu saya selalu menekankan bahwa pembentukan karakter pada seorang mahasiswa sangat dibutuhkan agar mahasiswa memiliki karakter unggul yang disebut integritas, karena seseorang yang memiliki integritas akan bertindak sesuai dengan nilai dan prinsip yang ada, termasuk tidak melakukan korupsi. Di samping itu, saya juga berencana untuk bergabung langsung di komunitas anti korupsi, sehingga visi saya untuk menularkan semangat ini akan lebih tersampaikan. Dengan menularkan atau mengajak orang lain untuk melakukan upaya pencegahan, sedikit banyaknya akan membantu langkah KPK dalam memberantas korupsi.

Saya optimis, jika semua orang melakukan upaya pencegahan korupsi dari diri sendiri, maka selanjutnya akan lebih mudah untuk melawan dan menghentikan tindakan korupsi di negeri ini. Besar pula  harapan saya agar orang-orang dapat menjadikan peringatan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) ini sebagai pengingat “Sudahkah kita mencegah  korupsi?” 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Hari Anti Korupsi Internasional yang diselenggarakan KPK dan Blogger Bertuah Pekanbaru

 logo-kpk

logotuah

0

Build the Character of The Student for Having a Bright Future

Jpeg

When I speeched about the important of Character Building for a student on Engineering Expo. Location : Engineering Faculty of Riau University

Rampant of digressions, disorientation of value, unnormative and corruptive behaviour that exist is becoming a basic of how important to conduct a character building especially on college students. Character is a behaviour value of every personality which has been an identity of person. Everyone has character as a compass of moral in facing the life. As if we are in the jungle, we might not be getting lost if we always pay attention to our own compass. Our daily life can be equated as being in the jungle. Without having a good character, it’s going to be hard for us to face the various types of choice, temptation, or even the trouble that exists.

According to me, university as an educational institution has an important role in this character building. University has to make a commitment in creating the graduates which is not only smart but also having a good character in order to be able to compete at the international level. Due to the fact is, that based on the survey conducted by National Association of Colleges and Employers, at USA 2002, the expected quality of university graduates for the future are those who have a good soft skill.

Fortunately, my department is so active to serve the various types of character building of students, through the organization for instance. Just sharing, I by myself have proved that character building is important to do on students. I am the alumnus of Biology Department, Math and Science Faculty Riau University. When I was a student, I was active joining some campus organizations that was so important for my character building. Besides, I was also active joining some leadership trainings and character buildings that held by my department. From that, I had more courage to give my opinion ethically, to lead and to make a team work also another positive things. And also because of the organization, I was elected to be one of national scholarship awardee and I got a character building training in there which was so useful to me. Simple example that I am applying of is joining this speech competition. If I don’t have a character, I won’t be brave to stand here because, however, it needs a big courage when I have to stand in front of the judges giving my opinion. The character building can be conducted outside the campus, such as being around people, joining a positive community and occupying our self with some positive things and be out from our comfort zone.

Because of that, I am brave to say that every student has to have some excellent characters which are needed for the future, such as : integrity, synergy, empathy and professionalism. Integrity is honesty and courage. Integrity is the key for a person to be a leader because, someone with the high integrity will act in accordance with the value and principal exist. And I am sure, people with a good integrity are going to like the right process for the right result. Synergy means cooperate. Indonesia and even world don’t need the great and smart people who only for their selves, but need the people who are willing to be synergy and not selfish. Empathy is needed in order to make people having a concern of surroundings and behavior done or about how to treat people. Professionalism means spirit and performance that we show. To all of my friends, now is the time.  Don’t let yourself becoming a student who only chase the great mark but still being apathetic. Don’t let yourself becoming an activist with the low intellectual. Show the world that we are the students with a good character and high integrity!

Like what Prof. Jan Klopper said on Ir. Soekarno’s graduation day, certificate is only a piece of paper and not eternal. At last, the character of a person that will determine their future. That’s all from me. Thank you.

2

Menjadi Tenaga Magang “Champions for Conservation Program” di WWF

Selepas saya wisuda dari jurusan Biologi FMIPA Universitas Riau, saya mendapati informasi bahwa WWF Indonesia membuka Champion for Conservation Program. Saya pun tertarik dan mengirimkan motivation letter serta CV saya. Setelah mengirimkan CV dan motivation letter, saya terpilih untuk mengikuti ujian tertulis (online) seputar konservasi. Alhamdulillah, setelah itu saya juga berhak mengikuti tahap selanjutnya yaitu interview dan Forum Group Discussion. Dari lebih 300 peserta se-Indonesia yang mendaftar, hanya 33 peserta yang diambil dan ditempatkan di provinsi yang berbeda-beda. Saya sendiri ditempatkan di WWF Program Sumatera Tengah (dulunya bernama WWF Riau) sebagai tenaga magang bidang komunikasi. Ada banyak bidang yang ditawarkan dan kamu berhak memilih ingin menempati bidang yang mana.

IMG_20160214_233714

Lokasi : Taman Nasional Tesso Nilo

Sejak tahun 2005 saat program ini diluncurkan, WWF telah membawa lebih dari 200 teman-teman sukarelawan dan magang yang mewakili 49 bangsa yang terbentang di 28 daerah, 17 provinsi dari Aceh hingga Papua, dengan lebih dari 500 karyawan dan didukung oleh lebih dari 64,000 supporters di Indonesia. WWF Indonesia juga bekerjasama dengan pemerintah, komunitas lokal, sektor swasta, NGOs, masyarakat sipil, dan masyarakat luas.

Setelah mengikuti program magang ini selama 6 bulan, begitu banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Saya telah melakukan berbagai kegiatan baik di kantor maupun di luar kantor. Di bulan pertama, kegiatan saya diawali dengan mengikuti pemantauan sidang kasus penjualan satwa yaitu orangutan. Sebagai tenaga magang bidang komunikasi, saya bertugas mencatat semua hasil persidangan dan membuat summary sidang untuk dilaporkan ke mentor. Aktifitas ini menjadi pengalaman baru bagi saya karena itu kali pertama saya menghadiri sidang, mengikuti jalannya persidangan dan masuk ke ruang sidang.

Di bulan kedua, saya terfokus pada kegiatan pendidikan lingkungan dan pembentukan perpustakaan desa di Desa Aur Kuning, Bukit Rimbang Bukit Baling, Riau. Desa ini merupakan salah satu habitat satwa yaitu Harimau Sumatera. Selain membuat Term of Reference kegiatan, saya disini bertanggung jawab untuk mengkoordinir seluruh kegiatan  yang mana kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian hutan sebagai habitat satwa. Untuk itu, saya dan tim melakukan pendidikan lingkungan untuk jangka pendek, dan membentuk perpustakaan di desa sekitar Rimbang Baling untuk jangka panjang, mengingat minimnya perpustakaan yang tersedia di daerah tersebut. Pendidikan lingkungan disampaikan melalui story telling dengan menggunakan wayang. Metode penyampaian materi menggunakan wayang sengaja saya pilih agar materi yang disampaikan dapat terserap dengan mudah dan menarik. Usai menyampaikan cerita melalui wayang, saya mengajak anak-anak bermain games “Tepuk hutan dan Harimau”. Selain melatih konsentrasi, permainan ini juga memiliki nilai konservasi terkait hutan dan harimau. Dengan pendidikan lingkungan yang diterima siswa nanti, saya harap anak-anak mampu memberi penyadaran kepada orang tua mereka.

DSCN6169

Kegiatan pendidikan lingkungan di Desa Aur Kuning. Foto : M. Afdhal

Adapula beberapa kegiatan campaign yang saya lakukan salah satunya kegiatan Global Tiger Day 2016. Di sini saya bertugas untuk menggugah publik agar ikut serta mendukung upaya pelestarian harimau dan habitatnya. Selain itu saya juga harus mampu memberikan edukasi publik tentang pentingnya penegakan hukum terhadap satwa liar untuk menekan keterancaman mereka di alam. Untuk itu, saya sebagai tenaga magang komunikasi harus mampu memikirkan cara yang tepat agar pesan yang ingin disampaikan ke publik dapat tersampaikan sesuai harapan. Rangkaian kampanye Global Tiger Day (GTD) dimulai dengan jalan santai melintasi area CFD dengan membawa spanduk, poster dan himbauan pentingnya konservasi harimau dan penegakan hukum terhadap tindak kejahatan satwa liar. Dalam kegiatan ini saya juga mengajak puluhan siswa-siswi SDN 176 Pekanbaru yang tidak ketinggalan mengikuti jalan santai sambil mengenakan atribut harimau dan meneriakkan yel-yel lindungi harimau. Selain itu saya juga menggandeng personil dari kepolisian Direktorat Bimbingan Masyarakat dan Reskrimsus, Polda Riau  dan polisi kehutanan dari BPPH LHK wilayah Riau untuk ikut dalam kegiatan ini. Agar lebih menarik, saya mengajak sejumlah pemain teater dan pemusik tradisional untuk ikut berkampanye sambil memainkan teater harimau Sumatera yang tetap diburu oleh pemburu. Kegiatan lainnya yang menjadi tanggung jawab saya adalah ikut melakukan sosialisasi ke masyarakat desa mengenai WWF dan peranannya. Tentunya semua kegiatan yang saya lakukan harus dirangkum dalam sebuah laporan dan diserahkan ke mentor.

DSC_0554

Suasana campaign Global Tiger Day 2016. Foto : Syafroni Pranata

Itu tadi beberapa pengalaman yang saya bagikan selama saya mengikuti magang di WWF. Berada 6 bulan di sini dan berkecimpung lebih dalam di dunia konservasi membuat saya merasa sangat senang. Selain bertemu banyak orang baru dan menambah relasi, saya juga bisa mengunjungi berbagai tempat terpencil di Riau yang ternyata tidak kalah indah dengan tempat wisata di kota lainnya. Saya juga banyak belajar mengenai ilmu komunikasi,  meskipun saya berasal dari jurusan sains. Untuk kamu yang juga berminat,  program magang (Champions for Conservation Program) ini akan dibuka kembali untuk gelombang kedua di tahun 2017. Untuk informasi lengkap, kamu bisa mengunjungi wwf.or.id.

IMG_8927

Bersama anak-anak desa Aur Kuning. Foto : M. Afdhal

Tulisan ini sudah diterbitkan sebelumnya di blog Kampus Update dan dapat diakses  di situs ini.

0

Lubuk Larangan, Warisan Budaya untuk Alam

antarafoto-tradisi-lubuk-larangan-290816-fba-1

Ikan di Lubuk Larangan Desa Batu Sangan. Sumber : rimanews.com

Suaka Margasatwa Rimbang Baling merupakan kawasan hutan perbukitan yang menyimpan sejuta pesona membentang di Kabupaten Kuantan Singingi dan Kampar, Provinsi Riau. Di sana terdapat Sungai Subayang yang merupakan salah satu jalur transportasi bagi masyarakat yang berada di desa-desa yang terletak di pinggiran sungai Subayang. Selain mengaliri 13 desa, sungai ini juga berfungsi sebagai sumber kehidupan masyarakat dan sebagai habitat flora serta fauna.

Sungai Subayang menawarkan keindahan yang luar biasa. Jernihnya air yang meruak di sela-sela bebatuan, menambah daftar serpihan surga di bumi pertiwi. Hutan, Sungai dan budaya serta adat istiadat masyarakat yang menghuni tepiannya adalah peninggalan nenek moyang yang mengagumkan untuk dilihat dan dipelajari secara dekat.

Ketergantungan masyarakat Subayang akan sungai Subayang membuat masyarakat senantiasa menjaga dan melestarikan sungai ini, salah satunya membentuk Lubuk Larangan. Lubuk larangan merupakan suatu kawasan di sepanjang sungai yang telah disepakati bersama sebagai kawasan terlarang untuk mengambil ikan baik dengan cara apapun apalagi dengan cara yang dapat merusak lingkungan sungai. Kesepakatan ini tertuang dalam aturan adat dan hukum adat yang berlaku untuk komunitas adat Rantau Kampar Kiri.

Kawasan ini memiliki kedalaman 3-4 meter yang merupakan tempat hidup dan berkembangbiaknya ikan-ikan besar (dalam bahasa lokal disebut bangkagh atau sarang ikan) seperti Ikan Tapa, Geso, Belida dan lainnya. masyarakat juga meyakini siapapun yang mengambil ikan di wilayah ini atau melanggar aturan yang ada, akan mendapatkan bencana. Kawasan yang menjadi lubuk larangan ditandai dengan tali yang melintang di atas Sungai. Ikan-ikan didalamnya juga unik, mereka bisa mengetahui batas lubuk larangan dan tidak akan keluar dari batas itu. Jika melewati batas, ikan-ikan itu boleh diambil oleh siapapun.

daftar-lubuk-larangan

Daftar Lubuk Larangan di Kawasan Adat Rantau Kampar Kiri. Foto : ikankampar.or.id

Tradisi Mencokau Ikan di Lubuk Larangan

Masyarakat adat yang berdiam di sepanjang Sungai Subayang bersama-sama menjaga lubuk larangan ini, salah satunya dengan melakukan tradisi “Baliak Batobo Mancokau Ikan di Lubuk Larangan”. Suatu tradisi yang berarti pulang bersama dan berkumpul bersama di kampung untuk melaksanakan panen ikan di Lubuk Larangan. Dahulunya, tidak semua orang di Subayang yang melakukan hal ini. Namun, setelah orang-orang melihat banyak keuntungan dan manfaat yang didapat, maka hingga kini tradisi Mancokau Ikan di Lubuk Larangan terus membudaya.

Proses diperbolehkannya memanen atau menangkap ikan di lubuk larangan akan tiba waktunya apabila adanya keputusan dan kesepakatan dari Musyawarah Adat. Pemanenan ikan biasanya dilakukan setahun sekali, misal pada musim kemarau atau menjelang idul fitri.  Penangkapan ikan didalam lubuk Larangan tidak di perkenankan untuk memakai alat yang bersifat memusnahkan ikan, seperti racun. Alat yang diperkenankan untuk di pakai yaitu jaring, jala dan senapan dengan anak panah besi (mirip harpoon).

img-20161202-wa0040

Pelemparan Jala ke Lubuk Larangan. Foto : Erwin dan Dodi Rasyid

Setelah ditentukan kesepakatan hari yang sesuai oleh ninik mamak (pemangku adat), maka pemuda dan masyarakat bersama-sama mempersiapkan lokasi, yaitu dengan membentuk pagar di sekitar lubuk larangan yang berfungsi  untuk tempat menempelnya jaring yang terbuat dari benang atau  tali plastik. Pemasangan jaring berfungsi untuk  menghambat ikan- ikan yang ada di  lubuk larangan agar tidak ada yang akan lari keluar sewaktu proses panen dilakukan. Mencokau dimulai dengan memainkan musik tradisional seperti musik celempong dan gendang gong. Dengan memakai pakaian Adat yang lengkap, yaitu baju teluk belanga  dan celana lebar yang serba Hitam, para ninik mamak turun ke Sungai (Lubuk Larangan)  untuk melakukan campak pertama (lempar jala pertama). Untuk hasil tangkapan ikan yang beratnya dibawah 1 kg akan dibagi-bagikan secara merata kepada masyarakat sedangkan untuk ikan yang beratnya diatas 1 kg akan dilelang dan uang hasil pelelangan digunakan untuk kas desa.

img-20161202-wa0035

Pelelangan Ikan Hasil Tangkapan. Foto : Erwin dan Dodi Rasyid

Tidak hanya sebagai pemasukan kas desa, tradisi ini juga mampu memberikan rasa persaudaraan yang kuat, meningkatkan gotong royong, menciptakan rasa kekompakan masyarakat, menumbuhkan rasa peduli terhadap kampung dan berperan dalam pelestarian ikan, sungai serta hutan disekelilingnya. Selain masyarakat lokal, pendatang luar juga diperbolehkan untuk menangkap ikan selagi masih mengikuti aturan yang telah disepakati.

Warisan Budaya untuk Alam

Manusia merupakan makhluk yang tak akan pernah terpisahkan dari alam. Adanya lubuk larangan, baik disadari atau tidak merupakan bentuk kearifan budaya yang bertujuan untuk melestarikan alam serta menjaga kelangsungan makhluk hidup di dalamnya. Secara ekologi dampak kearifan budaya lubuk larangan adalah mencegah kerusakan lingkungan sungai, menanggulangi kerusakan sungai dan memulihkan kerusakan lingkungan air serta ekosistem air. Ikan-ikan yang ada di lubuk larangan juga akan terus terjaga karena di lubuk larangan hanya diperbolehkan menangkap ikan satu kali dalam satu tahun. Selain itu, di  lubuk larangan  hanya  dibenarkan menangkap ikan berukuran besar yaitu dengan ukuran sekitar minimal empat jari atau 250 gram/ekor (Fauzul, 2013). Hal ini bertujuan agar ikan-ikan berukuran kecil tersebut diberi kesempatan untuk besar dan dapat bertelur agar ikan-ikan diperairan tersebut tidak habis atau terputus regenerasinya. Ikan yang besar juga memiliki daging yang lezat dan lebih gurih.

Peralatan yang digunakan dalam memanen ikan di lubuk larangan dapat memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitarnya. Ikan ditangkap menggunakan peralatan tradisional seperti jaring (net) yang berukuran tiga jari (Fauzul, 2013). Hal ini bertujuan agar ikan-ikan berukuran kecil tidak tertangkap sehingga memiliki kesempatan untuk tumbuh dan bertelur. Dalam memanen ikan, sarana yang digunakan adalah Sampan. Sampan (boat) yang terbuat dari kayu, sampan ini memiliki kapasitas mencapai 300 Kg (tiga atau empat orang). Peralatan-peralatan yang digunakan tersebut sangat ramah terhadap lingkungan dan tidak akan memberikan dampak negatif pada sungai ataupun ikan-ikan yang ada.

Budaya ini menjadi bukti nyata bahwa jika manusia dengan benar-benar menjaga alam, maka alam akan menjadi sahabat terbaik bagi manusia. Masyarakat Riau, terutama penduduk Subayang sangat berharap budaya ini terus didukung oleh semua pihak dan pemerintah sehingga dapat terjaga sampai ke generasi mendatang.

 

Tulisan ini sudah diterbitkan sebelumnya dan menjadi pemenang dalam tantangan #2 GNFI dengan tema “Budaya Unik Daerah”. Silakan diakses  di situs ini.

0

Beras Sagu, Inovasi Baru yang Menjaga Tradisi

9432793827-beras_sagu_800_600

Beras sagu dan beberapa produk olahan sagu lainnya. SUmber : http://www.antarariau.com

Riau adalah provinsi yang menyimpan sejuta khazanah, mulai dari posisi geografisnya yang sangat strategis hingga kekayaan alamnya yang melimpah, yaitu minyak bumi, timah, bauksit, emas, batubara dan gambut. Selain itu, Riau juga memiliki flora yang  beraneka ragam antara lain kayu kulim, sungkai, suntai, jelutung, medang, meranti, tembusu, bakau dan pohon sagu.

Berbicara soal produk kreatif,  pada tanggal 24-30 Oktober 2016 lalu telah diadakan acara Riau Expo 2016 di kota Pekanbaru. Riau Expo 2016 merupakan wadah agar terciptanya peluang kerjasama bisnis antara pelaku usaha dan pembeli serta pengenalan sekaligus pemasaran produk-produk Riau. Masyarakat Pekanbaru pun tak ingin ketinggalan untuk berkunjung dan melihat langsung produk-produk kreatif yang dipamerkan dari tiap daerah di Riau. Terdapat satu stand yang cukup ramai dikunjungi, yaitu stand  milik kabupaten Kepulauan Meranti yang memamerkan produk-produk berbahan dasar sagu. Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan satu-satunya daerah di Provinsi Riau yang menghasilkan sagu. Tiap tahunnya, kabupaten ini bisa menghasilkan sagu hingga 246.000 ton. Tanaman ini terdapat di seluruh desa yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Sagu juga telah lama dikenal oleh masyarakat. Sebab sejak ratusan tahun lalu, tanaman sagu telah menjadi salah satu komoditi dagang yang cukup menonjol di kepulauan Meranti.

Umumnya masyarakat Kepulauan Meranti sejak dari zaman nenek moyang dulu telah menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Belakangan juga sagu telah “disulap” menjadi berbagai macam jenis makanan. Bahkan, baru-baru ini Riau kembali menggegerkan dunia lewat event Festival Sagu yang menyajikan lebih kurang 369 olahan makanan yang terbuat dari sagu. Event  ini juga berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia dalam kategori kuliner.

Menurut Ahli Sagu Indonesia, Prof. Nadirman Haska, cadangan sagu di Indonesia mampu memasok kebutuhan karbohidrat pengganti beras untuk 80 juta penduduk Indonesia dalam 1 tahun bila dikelola dan dimanfaatkan dengan benar. Kini, Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi sedang mengembangkan produk kreatif daerah Riau yaitu beras sagu. Beras sagu adalah  beras yang dibuat dari pati sagu yang dicampur dengan sumber karbohidrat lainnya seperti jagung, beras merah, dll. yang diproses menyerupai beras. Inovasi produk berbahan dasar sagu ini juga dianggap mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang ada seperti jumlah penduduk yang terus bertambah, konsumsi beras yang tinggi sekitar 139 kg/kapita/tahun, konversi lahan sebesar 100 rb ha/th, teknologi produksi padi yang melandai, sumber air yang semakin langka, adanya perubahan iklim global, dan jumlah penduduk Indonesia pengidap Diabetes Mellitus  yang semakin meningkat.

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Riau  juga menyebutkan bahwa beras sagu memiliki beberapa kelebihan antara lain Glikemik Indeks (GI) nya yang rendah. Glikemik Indeks adalah ukuran kecepatan perubahan pati menjadi gula dalam tubuh manusia. Itu sebabnya beras sagu sangat baik untuk penderita Diabetes Mellitus. Selain itu, beras sagu memiliki kandungan energi, karbohidrat, dan serat yang lebih tinggi serta kandungan lemak dan protein yang lebih rendah bila dibandingkan dengan beras biasa. Makanan yang dapat dibuat dari beras sagu antara lain Nasi Goreng, Nasi Uduk, Arem-arem, dll.

Dengan adanya inovasi seperti ini, masyarakat Riau sangat berharap agar nantinya beras sagu dapat menjadi salah satu pangan lokal yang dapat menjadi alternatif untuk permasalahan pangan di Indonesia mengingat jumlah cadangan beras ideal yang harus dimiliki oleh Pemerintah adalah sekitar 750 ribu– 1,25 juta ton (Tim UGM,2003 dalam Sekilas CBP http://www.bulog.co.id). Selain itu juga diharapkan sagu dapat menjadi salah satu makanan tradisional Indonesia yang dikenal ditingkat nasional bahkan Internasional.

Tulisan ini sudah diterbitkan sebelumnya dan menjadi pemenang dalam tantangan #1 GNFI dengan tema “Produk Kreatif Daerah”. Silakan diakses  di situs ini.